GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0
Menu

Cara Menanam Hidroponik dan Contohnya

Monday, January 9th 2017.
Suka? Bagi ke Teman Yuk!

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, mengakibatkan berkembangnya pula seni menanam tanaman. Hidroponik adalah budidaya menanam tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya, melainkan dengan memanfaatkan air. Jadi, dalam hidroponik, tanah tidak digunakan sama sekali. Pemenuhan nutrisi tanaman adalah titik fokus dari metode hidroponik ini. Walaupun metode menanam hidroponik ini menggunakan air, namun air yang digunakan lebih sedikit jika dibandingkan dengan metode bercocok tanam biasa, yaitu menanam di tanah. Metode ini cocok diterapkan di daerah yang memiliki keterbatasan dalam pasokan air.

10 Cara Menanam Menggunakan Metode Hidroponik

Pada umumnya, metode hidroponik ini berdasar pada penambahan nutrisi pada air. Kemudian larutan tersebut dijadikan semacam bank nutrisi untuk diproses oleh tanaman. Ada sedikitnya sepuluh cara yang dikembangkan untuk menanam tanaman menggunakan metode hidroponik ini. Kesepuluh cara itu adalah static solution culture, continuous-flow solution culture, aeroponics, fogponics, passive sub-irrigation, ebb and flow or flood and drain sub-irrigation, run to waste, deep water culture, top-fed deep water culture, dan rotary.

Cara ini sudah kami bahas pada artikel cara bertanam hidroponik bagi pemula tapi akan kami bahas lebih lengkap disini.

Berikut penjelasan dari kesepuluh cara menanam hidroponik:

  1. Static solution culture

Sesuai dengan namanya, pengairan yang digunakan dalam metode ini adalah air yang diam atau statis (static). Maksudnya, penanaman hidroponik di lakukan di sebuah tempat besar (seperti bak) yang terisi air. Akar-akar tanaman hidup di dalam air itu, sementara bagian batangnya tumbuh di atas permukaan air. Air yang digunakan, sebelumnya telah diberi nutrisi (nutrien).

c

Metode static solution culture  yaitu menanam dilakukan di sebuah tempat besar berisi air yang diam (statis).

Di Indonesia, static solution culture lebih dikenal dengan nama teknik apung (atau disebut pula dengan nama rakit apung) dan sistem sumbu (atau yang lebih dikenal dengan bahasa Inggrisnya wick system).

Ukuran wadah yang digunakan untuk menampung larutan berbeda-beda, tergantung pada penggunaan, jenis tanaman, dan ukuran tanaman.

Sistem ini bisa dilakukan secara sederhana di dalam rumah dengan menggunakan barang-barang tak terpakai yang ada di sekitar rumah. Barang-barang itu di antaranya gelas, ember, toples, botol plastik bekas, atau juga bak air.

Sistem ini pun (terutama wick system) biasanya diperkenalkan di sekolah-sekolah. Sistem wick adalah sistem yang memanfaatkan daya kapilaritas (kain atau sumbu). Sistem wick memanfaatkan bank nutrisi yang terletak di bagian bawah tempat penanaman untuk kemudian dibawa naik oleh kain atau sumbu ke bagian akar tanamannya. Jadi, akar tanaman tidak secara langsung menyentuh air. Sistem wick ini baik untuk mencegah pembusukan akar. Selain itu, sistem wick ini juga bagus untuk diterapkan di daerah yang kesulitan mendapatkan pasokan air.

Perbedaan antara teknik wick (sumbu) dengan teknik apung adalah letak akarnya. Pada teknik wick akar tidak langsung menyentuh air, sedangkan dalam teknik apung akar langsung menyentuh air.

Teknik apung biasanya memanfaatkan sterofom sebagai penyangganya. Maksudnya, akar tanaman di masukkan sterofom yang sudah dilubangi. Dengan begitu, akar tanaman akan menjuntai di air, sementara batang tanamannya akan mengapung di atas permukaan air, tersangga oleh sterofom.

Untuk hasil maksimal, yaitu agar nutrien tidak mengendap, gunakanlah aerator. Aerator adalah alat bertenaga listrik yang berfungsi menambahkan udara ke dalam air, atau biasa juga disebut penggelembung udara. Aerator bisa kita dapatkan di toko-toko perlengkapan akuarium. Selain itu, penggunaan aerator pun berfungsi untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air.

Yang harus diperhatikan dari sistem air statis ini adalah volume air yang selalu berkurang. Periksalah secara berkala pasokan air dalam wadah. Tambahkanlah jika air terlihat berkurang.

  1. Continuous-flow solution culture

Hampir mirip dengan static solution culture, di mana akar sama-sama menjuntai dalam air, continuous-flow solution culture memiliki teknologi yang lebih spesifik. Dalam continuous-flow solution culture, air yang tadinya diam, dibuat untuk terus mengalir. Air yang mengalir itu secara kontinyu mengalir melewati akar-akar tanaman. Jika teknik static solution culture menggunakan wadah seperti bak air atau bahkan botol plastik bekas, teknik continuous-flow solution culture ini pada umumnya menggunakan pipa paralon (pipa air). Pipa-pipa itu biasanya disambungkan membentuk seperti pola ular melata. Sistem ini memungkinkan penggunanya untuk menanam lebih banyak tanaman. Baca cara membuat tanaman hidroponik dengan paralon disini.

m

Metode continuous-flow solution culture menggunakan pipa paralon dengan mengalirkan air secara kontinyu melewati akar-akar tanaman.

Dalam sistem ini, tanaman ditanam di sisi pipa yang sudah dilubangi, setiap lubang diberi jarak sekitar dua puluh sampai tiga puluh sentimeter. Kemudian, lubang itu di isi penyangga seperti gelas yang bawahnya berlubang. Jadi, akar tanaman bisa menyentuh air mengalir di dalam pipa itu, sementara batang tanamannya berada di atas air.

  1. Aeroponics

Aeroponik adalah sistem yang unik. Akar-akar tanaman dibasahi dengan cara menyemprotkan nutrien secara berkala. Nutrien yang disemprotkan berupa butir-butir halus, hampir menyerupai kabut.

m

Metode aeroponik hampir sama dengan dua metode sebelumnya, yang membedakan adalah akarnya tidak terendam di air, melainkan menjuntai di atas permukaan air.

Sistem ini telah terbukti sangat efektif untuk digunakan dalam perkembangbiakan tanaman (propagation) dan pada tahap awal perkembangan tanaman.

Hampir sama dengan teknik continuous-flow solution dan static solution culture, di mana air berada di bawah akar, sistem aeroponik ini memiliki perbedaan dari kedekatan akar tanaman dengan air. Akarnya tidak terendam air, tapi menjuntai di atas permukaan air.

  1. Fogponics

Metode fogponics hampir mirip dengan metode aeroponics. Bedanya terdapat pada ukuran larutan nutrisi yang dikeluarkan. Pada metode fogponics ini, ukuran air yang dipancarkan pada akar tumbuhan adalah sebesar 5-10 µm, jauh lebih kecil dibandingkan diameter larutan air yang disemprotkan dalam metode aeroponics.

Dengan ukuran sekecil itu, larutan dapat menyebar di udara dengan bebas. Selain itu, ukuran yang kecil dapat menyentuh akar tanaman dengan mudah dan tidak menghambat oksigen.

  1. Passive sub-irrigation

Passive sub-irrigation dikenal juga dengan nama hidroponik pasif atau semi hidroponik. Tekniknya hampir mirip dengan continuous-flow solution dan static solution culture. Dalam passive sub-irrigation media tanamnya biasanya berupa sabut kelapa (cocopeat). Penanamannya menggunakan dua wadah, satu untuk tanamannya, satu lagi untuk wadah air yang kemudian diserap oleh akar atau dengan bantuan kain. Teknik wick adalah salah satu cara yang termasuk ke dalam passive sub-irrigation.

  1. Ebb and flow or flood and drain sub-irrigation

Ebb and flow or flood and drain sub-irrigation hampir mirip dengan continous-flow solution di mana air bersirkulasi, bukan air tergenang. Mudahnya, tabung penyimpan larutan air dan nutrisi mengalirkan larutannya ke bagian bawah pot tanaman, kemudian kelebihan airnya dialirkan kembali ke tabung nutrisi yang berada di bawah pot tanaman.

  1. Run to waste

Sistem ini adalah sistem sekali jalan. Maksudnya, air yang dialirkan langsung dibuang. Tempat menanamnya biasanya berbentuk bak besar yang di atasnya ditanami tanaman. Tanaman seperti tomat, timun, dan cabe bisa ditanam dengan metode ini.

Metode run to waste

Metode run to waste menggunakan sistem sekali jalan, dimana air yang dialirkan langsung dibuang.

Jadi, baknya berbentuk persegi panjang. Air dialirkan dari satu sisi ke sisi lainnya. Di sisi yang lainnya itu, terdapat lubang untuk membuang air yang tadi dialirkan. Metode sistem ini biasanya menggunakan skala yang besar.

  1. Deep water culture

Sistem deep water culture membuat tanaman lebih cepat besar. Karena, banyak kandungan oksigen yang diserap oleh akar tanaman. Caranya, yaitu dengan menahan akar tanaman agar terus berada di wadah berisi larutan nutrisi tanaman hidroponik yang juga diberikan oksigen. Penambahan oksigen bisa menggunakan pompa air atau penggelembung air untuk akuarium.

Metode deep water culture

Ilustrasi metode deep water culture yang biasanya menggunakan ember sebagai wadah.

Batang tanaman sama sekali tidak menyentuh air. Sehingga tidak akan terjadi pembusukan batang. Sistem ini biasanya dilakukan di dalam ember. Usahakan agar akar tanaman tidak dibiarkan terurai ke mana-mana. Gunakanlah net pot, yaitu pot yang banyak lubangnya seperti saringan teh. Net pot ini memang diperuntukkan untuk digunakan dalam metode hidroponik.

  1. Top-fed deep water culture

Metode top-fed deep water culture ini lebih baik jika dibandingan dengan metode deep water culture. Top-fed deep water culture membuat pertumbuhan tanamannya lebih cepat dibanding deep water culture.

Dalam top-fed water culture air berisi nutrisi dialirkan ke bagian atas akar, kemudian air dibiarkan menetes ke wadah (ember) penampungan larutan nutrisi. Air dialirkan oleh pompa air yang menyala seharian penuh selama proses penanaman. Penggunaan pompa air ini membuat kadar oksigen dalam wadah penampungan larutan nutrisi menjadi tinggi. Kadar oksigen yang tinggi dalam larutan membuat tanaman cepat besar dan subur.

  1. Rotary

Dalam sistem ini, tanaman ditanam di dalam sebuah lingkaran yang terus berputar selama proses penanaman berlangsung. Bentuknya seperti lingkaran permainan hamster. Sistem ini dirancang untuk semua jenis tanaman.

Metode rotary

Beginilah bentuk peralatan metode rotary hidroponik yang terus berputar selama proses penanaman berlangsung.

Di titik poros lingkaran tersebut, terdapat sebuah lampu yang bersinar terang. Fungsinya untuk menstimulasi cahaya matahari.

Media Tanam yang Sering Digunakan dalam Metode Hidroponik

Setelah mengetahui kesepuluh jenis teknik bercocok tanam hidroponik, hal selanjutnya yang penting untuk dipikirkan oleh seorang pekebun organik adalah media tanam yang harus digunakan untuk menanam tanamannya. Berikut ini adalah beberapa macam media tanam yang bisa digunakan untuk menanam tanaman dengan metode hidroponik:

  1. Pelet Tanah Liat
p

Bentuk salah satu media tanam yang digunakan pada metode hidroponik, yaitu pelet tanah liat.

Media tanam ini berbentuk bulat-bulat seperti pelet makanan ikan. Terbuat dari tanah liat yang dibakar dalam suhu sekitar 1.200 derajat celsius. Pembakaran dengan suhu tinggi ini membuat bakteri, virus, dan kuman yang ada di tanah liat mati sehingga tidak akan membahayakan tanaman. Pelet tanah liat atau hidroton memiliki pH netral sehingga baik untuk digunakan. Walaupun terbuat dari tanah liat, pelet ini sangatlah ringan, sehingga tidak perlu khawatir untuk menggunakannya.

Beberapa produsen pelet tanah liat membuat produk ini ramah lingkungan. Artinya, pelet tanah liat bisa digunakan kembali setelah dicuci bersih. Pencucian dengan cara merendam pelet tanah liat dengan cuka, klorin, atau hidrogen peroksida dinilai cukup untuk membunuh segala bakteri yang mungkin hidup dan berkembang selama proses penanaman sebelumnya.

  1. Sekam
s

Sekam merupakan salah satu media tanam yang memiliki kemampuan drainase air yang baik.

Sekam adalah kulit padi setelah ditumbuk. Harga sekam sangatlah ekonomis. Sekam menjadi pilihan yang banyak digunakan baik untuk hidroponik, maupun nonhidroponik. Sekam memiliki kemampuan drainase air yang baik.

  1. Sekam bakar

Berbeda dengan sekam biasa yang berwarna kuning keemasan, sekam bakar warnanya hilang seperti arang. Sekam bakar adalah sekam yang telah dibakar sedemikian rupa sehingga bisa digunakan sebagai media tanam. Saat digunakan, sekam bakar akan menjadi lebih padat, jika dibandingkan dengan sekam biasa. Hal ini bagus untuk menyerap air lebih banyak.

  1. Spons

Spons memiliki daya serap tinggi. Kemampuan menyerapnya ini digunakan sebagai penyimpan pasokan air yang baik. Selain itu, akar-akar tanaman akan mudah mencengkram dan merengsek masuk ke dalam spons.

  1. Growstones
g

Growstones merupakan salah satu media tanam yang paling banyak dipilih sebagai alternatif menanam dengan metode hidroponik.

Growstones terbuat dari kaca daur ulang. Sistem drainase dari growstones ini sangat baik. Growstones menjadi salah satu pilihan media tanam hidroponik yang banyak dipilih. Ukurannya bervariasi, sekitar 2-5 cm. Growstones ini bisa digunakan untuk menanam sayuran, tanaman herbal, tanaman buah, juga bunga-bungaan. Cocok digunakan sebagai media tanam untuk menanam selada bahkan tomat. Growstones bisa dibilang sebagai alternatif yang baik selain pelet tanah liat.

  1. Sabut kelapa
c

Cocopeat adalah media tanam yang dibentuk sedemikian rupa dan dibuat lebih halus.

Sabut kelapa adalah media tanam yang netral karena tidak mengandung mineral. Hebatnya, sabut kelapa bisa menyimpan mineral yang belum diperlukan tanaman. Jika kemudian tanaman membutuhkannya, sabut kelapa akan melepaskannya agar bisa diserap oleh akar tanaman tersebut. Sabut kelapa memiliki banyak bentuk (setelah diolah agar memudahkan penanaman). Bentuk yang paling terkenal adalah cocopeat. Cocopeat adalah sabut kelapa yang dibuat lebih halus. Teksturnya menyerupai sekam bakar. Sabut kelapa sudah dikenal di dunia bunga-bungaan. Para petani anggrek maupun penggemar anggrek biasanya menggunakan sabut kelapa sebagai media tanamnya, selain arang.

  1. Perlite
m

Bentuk media tanam perlite, berupa bebatuan vulkanik.

Di Indonesia, mungkin kita jarang mendengar kata “perlite”. Perlite adalah media tanam pengganti tanah, berupa bebatuan vulkanik. Perlite memiliki berat yang ringan dikarenakan pemanasan alami yang dialaminya.

  1. Vermiculite
m

Salah satu media tanam yang banyak menyerap air dan nutrisi adalah vermiculite.

Sama seperti perlite, nama “vermiculate” pun jarang didengar di Indonesia. Vermiculite pun terbentuk dari proses pemanasan ekstra secara alami, sehingga massanya berubah ringan. Walau begitu, vermiculite lebih banyak menyerap air dan nutrisi. Vermiculite bisa melepaskan sedikit demi sedikit serapan airnya untuk memudahkan udara masuk di sekitar akar tanaman.

  1. Batu apung

Pelite, vermiculite, dan batu apung sama-sama terbentuk dari proses vulkanik. Beratnya pun sama-sama ringan. Batu apung sering juga digunakan sebagai media pengganti tanah dalam proses hidroponik.

  1. Pasir

Pasir adalah media tanah yang murah dan mudah didapat. Namun begitu, massanya sangat berat. Pasir tidak menyerap air dengan baik. Selain itu, jika hendak digunakan kembali, pasir perlu disterilkan.

  1. Kerikil

Selama ini kita tahu bahwa kerikil akuarium hanya dapat digunakan sebagai ornamen dalam akuarium saja, namun rupanya tidak. Kerikil bisa juga dijadikan media tanam hidroponik. Sebelum digunakan, sebaiknya kerikil dicuci bersih terlebih dahulu.

Kerikil akuarium tidak akan membuat air dalam pot tergenang, namun kerikil terkenal dengan massanya yang berat. Kerikil tidak menyerap air sehingga tidak cocok untuk tanaman yang membutuh pasokan air terus menerus.

  1. Serat kayu

Serbuk kayu atau serbuk gergaji bisa digunakan sebagai media tanam pengganti tanah (hidroponik). Serbuk kayu adalah media tanam yang sangat awet. Mendapatkan serat kayu tidaklah sulit, datanglah ke tempat-tempat pembuatan furnitur di sekitar tempat tinggal.

  1. Wool bulu

Wool bulu adalah wool yang terbuat dari bulu domba. Wool bulu memberi tanaman pasokan udara yang baik.

  1. Wool batu (mineral wool)

Wool batu adalah media tanam yang paling banyak digunakan dalam metode hidroponik. Wool batu terbuat dari batu yang meleleh dan basah. Wool batu bisa membuat tangan terserang gatal. Namun jangan khawatir, dengan mencuci tangan dengan air dingin yang mengalir, akan mengurangi rasa gatal itu. Walau begitu, wool batu sangatlah berguna secara efektif dan efisien sebagai media tanam hidroponik.

  1. Pecahan batu bata

Jika Anda suka berkebun dan menemukan batu bata yang sudah pecah di jalanan, jangan malu untuk mengambilnya. Ternyata, pecahan batu bata bisa digunakan sebagai media tanam hidroponik. Namun, jangan lupa untuk mencuci pecahan batu bata itu dengan ekstra bersih demi menjaga pH media tanam.

  1. Kacang Polisterin

Kacang polisterin adalah semacam karet sintetis yang dibentuk menyerupai biji kacang tanah. Harganya sangat murah. Drainase dari material ini sangatlah baik. Namun, berhati-hatilah dengan beratnya yang sangat ringan. Kacang poliserin memiliki nama lain seperti foam peanuts, packing peanuts, popcorn sterofom, atau packing noodles. Namun, zat sterin (styrene) ternyata dapat diserap oleh tumbuhan dan membahayakan kesehatan.

  1. Hidrogel
m

Hidrogel dapat dijadikan sebagai media tanam penghias ruangan.

Hidrogel atau jelly air bisa digunakan sebagai media tanam hidroponik dalam skala kecil. Selain dijadikan media tanam, hidrogel pun berfungsi sebagai ornamen penghias ruangan. Hal tersebut disebabkan bentuk dan warnanya yang cantik. Harganya cenderung murah. Hidrogel bisa didapatkan di toko-toko tanaman.

  1. Batang pakis

Pada dasarnya, hidroponik adalah metode menanam tanpa tanah. Jadi media tanam yang digunakan bukanlah tanah. Bagi beberapa orang, menggunakan batang pakis sebagai media tanam bukanlah hal yang asing. Batang pakis terdapat dua jenis, yaitu batang pakis hitam dan batang pakis coklat. Batang pakis hitam adalah batang pakis yang lebih sering digunakan untuk dijadikan media tanam. Cara menggunakan batang pakis ini adalah dengan mencacahnya terlebih dahulu. Batang pakis ini memiliki sistem drainase yang baik dan teksturnya lunak. Namun, semut dan hewan-hewan kecil lainnya dikabarkan betah untuk hidup di cacahan batang pakis ini.

  1. Kompos

Kompos adalah hasil dari proses pembusukkan limbah organik seperti daun layu, rumput, atau kulit buah dan sayur. Kompos kaya akan nutrisi sehingga baik untuk tanaman. Selain itu, unsur nitrogennya (N) pun sangat kaya. Tidak hanya sebagai media tanam yang baik, ternyata kompos juga bisa digunakan untuk mengembalikan kondisi tanah pada kondisi yang subur

  1. Lumut

Lumut yang lebih dikenal dengan nama moss di dunia pertanaman adalah salah satu dari banyak media tanam yang bisa digunakan untuk menggantikan penggunaan tanah. Moss terbuat dari akar paku-pakuan yang biasa terdapat di hutan. Biasanya moss digunakan sebagai media penyemaian, karena mempermudah penyebaran akar tanaman. Moss bisa mengikat air dengan sangat baik.

Jenis Tanaman yang Bisa Ditanam Menggunakan Teknik Hidroponik

Berikut beberapa tanaman yang dapat ditanam dengan menggunakan teknik hidroponik:

  1. Anggrek
Ilustrasi menanam anggrek dengan metode hidroponik.

Ilustrasi menanam anggrek dengan metode hidroponik.

Anggrek (Orchidaceae) bisa ditanam menggunakan hidroponik. Pilihlah metode passive sub-irrigation. Dengan menanam anggrek menggunakan hidroponik, Anda tidak perlu sering-sering menyiram anggrek kesayangan Anda dan tidak perlu khawatir angrek Anda kelebihan air.

  1. Anggur

Anggur (Vitis vinifera) bisa ditanam dengan menggunakan teknik hidroponik. Teknik yang cocok salah satunya adalah top-fed deep water culture. Dengan menggunakan teknik top-fed deep water culture, anggur ditanam di atas kolam, sehingga nanti pertumbuhannya akan merambati penyangga yang diberikan dan buah-buahnya akan menjuntai. Menanam anggur dengan teknik top-fed deep water culture ini bisa berfungsi juga sebagai ornamen kolam, sehingga kolam tidak terlihat membosankan.

  1. Asparagus

Asparagus (A. officinalis) adalah sayuran yang dikonsumsi batangnya untuk dimakan. Batangnya tegak, lurus, dan tinggi. Asparagus ternyata bisa juga dikembangbiakkan dengan cara hidroponik.

  1. Bawang Merah
Bawang merah yang ditanam dengan menggunakan metode hidroponik.

Bawang merah yang ditanam dengan menggunakan metode hidroponik.

Hidroponik ternyata bukan hanya diperuntukkan untuk sayur-sayuran yang berdaun lembut saja, melainkan juga bisa untuk menanam tumbuhan berumbi seperti bawang merah (A. cepa). Di Indonesia bawang merah menjadi salah satu keperluan dapur yang sangat dibutuhkan. Baca cara menanam bawang merah hidroponik disini.

  1. Bawang perai

Bawang perai atau bawang prei (A. ampeloprasum) termasuk ke dalam genus bawang-bawangan. Rupanya mirip seperti bawang daun tapi, wanginya tidak semenyengat bawang daun. Bawang perai lazimnya digunakan pada masakan-masakan Eropa, terutama pada masakan Perancis yang bernama vichyssoise.

  1. Bayam

Bayam (Amarantus) adalah satu dari banyak jenis sayuran yang dapat ditanam menggunakan hidroponik. Gunakanlah metode continuous-flow solution culture atau static solution culture untuk mendapatkan hasil terbaik.

  1. Bit

Beta vulgaris adalah nama ilmiah dari bit. Bit memiliki warna merah pekat. Sama seperti bawang merah, bit juga termasuk ke dalam tanaman umbi-umbian. Dengan begitu, bit juga bisa ditanam menggunakan teknik hidroponik.

  1. Blackberry

Blackberry (rubus) ternyata bisa ditanam menggunakan hidroponik. Media tanamnya bisa diganti menjadi kerikil atau batu-batuan.

  1. Blueberry

Blueberry (Vaccinium) adalah antioksidan yang baik. Ia bisa ditanam secara hidroponik juga.

  1. Brokoli

Brassica oleraceavar bortrytis adalah tanaman dari keluarga kubis-kubisan. Menanam brokoli secara hidroponik membuat brokoli lebih kaya akan nutrisi.

  1. Buncis

Phaseolus vulgaris atau buncis, bisa ditanam secara hidroponik. Menanam buncis dengan cara hidroponik sangatlah mudah. Hal itu disebabkan karena biji buncisnya yang mudah tumbuh.

  1. Cabai

Cabai (Capsicum) memiliki banyak kegunaan. Oleh karena itu, para petani melakukan banyak eksperimen pada tanaman yang satu ini. Ternyata, hidroponik bisa juga diterapkan dalam penanaman cabai.

  1. Kacang polong

Tidak hanya tanaman daun-daunan, kacang-kacangan seperti kacang polong (Canavilia gladiata) pun bisa ditanam menggunakan metode hidroponik.

  1. Kangkung

Kangkung adalah tanaman yang mudah tumbuh. Ia biasanya tumbuh di daerah lembap berair. Hidroponik sangat bagus untuk diterapkan pada kangkung. Karena memang habitat kangkung yang menyukai daerah berair.

  1. Lemon

Citrus limon atau yang biasa dikenal sebagai lemon adalah tanaman yang buahnya menyegarkan. Buahnya biasa dijadikan bahan untuk minuman.

  1. Lobak

Lobak (Raphanus sativus) adalah sayuran yang mudah tumbuh. Masa panennya sekitar tiga minggu sampai dua bulan, bergantung pada jenisnya.

  1. Raspberry

Sama seperti tanaman berry-berry yang lainnya, raspberry dapat dibudidayakan menggunakan metode hidroponik. Selain hemat air, akan semakin banyak kandungan nutrisi yang diserap, sehingga buahnya pun akan semakin berkualitas.

  1. Rosemary

Rosemary terkenal dengan aromanya yang khas. Rosemary biasanya digunakan sebagai rempah bahan masakan. Biasanya rosemary ditambahkan pada olahan daging sapi untuk menetralkan bau amis yang berlebih.

  1. Selada
Ilustrasi selada hidroponik.

Ilustrasi selada hidroponik.

Lactuca sativa tanaman ini adalah tanaman yang paling terkenal di dalam metode penanaman hidroponik. Selada mudah dibesarkan, tak hanya di tanah, melainkan juga di media tanam hidroponik. Hidroponik dipercaya mampu memperbanyak nutrisi yang diserap oleh selada sehingga selada tumbuh lebih sehat (selada organik). Baca cara menanam selada dengan metode hidroponik disini.

  1. Stroberi

Stroberi atau strawberry (Fragaria x ananassa) adalah salah satu tanaman yang juga sering dibudidayakan dengan metode hidroponik. Metode hidroponik akan membuat nutrisi diserap baik oleh strawberry. Sehingga tanaman strawberry akan menghasilkan buah yang merah dan besar.

  1. Tauge

Tauge adalah kecambah yang biasanya terbuat dari kacang hijau atau kacang kedelai. Membuat tauge menggunakan hidroponik, dipercaya mampu membuat tauge tumbuh lebih cepat.

  1. Wortel

Sama halnya dengan lobak, wortel (Daucus carot) pun bisa ditanam secara hidroponik.

Beberapa tanaman lain yang dapat ditanam menggunakan metode hidroponik adalah arugula, chervil, chives, dill, lemon balm, mache, majoram, sorrel, spear & peppermint, sage, tarragon, thyme, artichoke, brussel, Kelembak (Aquilaria malaccensis), kemangi (Ocimum sanctum), kembang kol, kentang (Solanum tuberosum), ketumbar (Coriandrum sativum), kubis (Brassica oleracea), lavender (Lavandula angustifolia), melon (Citruslus vulgaris), mint, oregano, paprika (Capsicum annuum var abbreviata), parsnip, seledri (Apium graveolens), semangka (Citrullus vulgaris), squash, terong (Solanum melongena), terong Jepang, timun (Cucumis sativus), timun Jepang, tomat (Solanum Iycopersicum), dan ubi jalar.

Keuntungan Menanam Tanaman Menggunakan Teknik Hidroponik

Sebenarnya, kita semua sudah bisa menerka apa saja keuntungan (kelebihan) menanam menggunakan teknik hidroponik. Untuk kembali mengingatkan, memperjelas, dan memperinci segala keuntungannya, berikut ini adalah beberapa dari banyak keuntungan menanam menggunakan teknik hidroponik:

  1. Lebih hemat air

Walau inti dari hidroponik adalah mengganti penggunaan tanah dengan penggunaan air berisi nutrisi, tapi air yang dikonsumsi dalam proses hidroponik ini lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman yang ditanam menggunakan tanah. Mengapa bisa seperti itu?

Hidroponik tidak langsung membuang air yang digunakan. Jika menyiram tanaman yang ditanam dalam pot atau yang berada di tanah, air akan langsung menyerap ke tanah atau terbuang ke saluran irigasi. Walaupun dalam hidroponik ada istilah run to waste, namun run to waste tidak membuang airnya begitu saja. Air yang terbuang adalah sisa penyerapan dari banyak pot atau tanaman yang berada dalam satu bak. Jadi, jika dalam penyiraman biasa satu gayung untuk satu pot, dalam run to waste satu gayung bisa untuk lima pot. Jadi air yang terbuang akan lebih sedikit.

  1. Tidak memerlukan tanah

Media tanam berupa tanah, diganti menjadi salah satu dari pelet tanah liat, sekam, sekam bakar, spons, growstones, sabut kelapa, perlite, vermiculite, batu apung, pasir, kerikil, serat kayu, wool bulu, wool batu (mineral wool), pecahan batu bata, kacang polisterin, hidrogel, batang pakis, kompos, atau lumut.

  1. Lebih bersih

Tanaman yang dihasilkan akan lebih bersih, jika dibandingkan dengan hasil tanaman yang ditanam di tanah. Selain tanamannya yang bersih, lokasi penanamannya pun bersih. Tidak perlu khawatir untuk menanam tanaman hidroponik di dalam rumah.

  1. Sirkulasi air terjaga

Hidroponik yang ditanam di wadah atau bak, sirkulasi airnya dijaga oleh penggelembung air atau pompa air. Penanaman teknik hidroponik ini bisa juga dilakukan di kolam. Pompa air yang biasanya dialirkan langsung ke kolam, bisa diarahkan ke pot tanaman hidroponik yang memiliki banyak lubang drainase (atau menggunakan net pot). Jadi, airnya akan kembali masuk ke dalam kolam.

  1. Pemberian nutrisi lebih efektif

Sama seperti air yang hanya terbuang sedikit, nutrisi yang terkandung dalam air pun hanya akan sedikit yang terbuang. Akar tanaman hidroponik akan menyerap nutrisi lebih cepat.

  1. Media tanam bisa dipakai ulang

Media tanam seperti kerikil dan pelet tanah liat bisa digunakan kembali. Kita hanya perlu mencucinya terlebih dahulu.

  1. Hasilnya lebih memuaskan

Tanaman akan cepat besar. Bisa menanam dengan skala besar. Tidak memakan tempat. Sehingga akan hemat waktu, tenaga dan uang.

  1. Polusi yang ditimbulkan lebih sedikit

Sedikitnya air yang terbuang, maka akan sedikit pula polusi yang dibuang. Selain itu, polusi yang dimaksud adalah kandungan bahan kimia berbahaya yang biasanya digunakan dalam pupuk atau pestisida. Hidroponik sebaiknya menggunakan pupuk atau pestisida alami (organik) agar hasil lebih maksimal.

  1. Hasil panen mudah dipanen

Hasil panen mudah dipanen. Selain disebabkan tidak ada hama, juga karena medianya bersih. Sehingga pencucian berulang-ulang pascapanen tidak perlu dilakukan. Media tanamnya yang cenderung longgar pun membuat tanaman mudah dicabut saat panen.

  1. Bisa dijadikan hiasan

Hidroponik bisa dijadikan hiasan. Tentu saja. Namun, untuk wadah berukuran kecil, bukan dalam skala besar. Tren hidrogel beberapa tahun lalu adalah bukti hidroponik bisa dijadikan hiasan ruangan. Selain ruangan menjadi indah karena tanaman, juga warna hidrogel yang cerah, menarik, dan berkilau membuat ruangan semakin eye-catching.

  1. Bisa melakukan rekayasa warna sederhana

Beberapa bunga diklaim bisa diubah warnanya menggunakan teknik hidroponik ini. Hal tersebut bergantung pada tingkat keasaman atau kebasaan larutan nutrisi yang digunakannya. Itu berarti  tingkat keasaman atau kebasaan bisa diatur dalam metode hidroponik ini, sehingga akan menghasilkan warna bunga yang lain.

Itulah seluk beluk cara menanam hidroponik dan contohnya, termasuk jenis tanaman yang bisa Anda tanam. Hidroponik juga memberikan banyak manfaat dan keuntungan (Baca juga artikel mengenai kelebihan, kekurangan dan manfaat hidroponik). Jadi, apakah Anda siap untuk beralih dari tanah dan menggunakan hidroponik untuk menanam tanaman yang lebih ramah lingkungan?

Produk terbaru

Rp 40.000
Rp 40.000

Rekening Bank

No rek. BCA akan di-SMS bersamaan total tagihan
No. Mandiri akan di-SMS bersamaan total tagihan
No rek. BNI akan di-SMS bersamaan total tagihan
No rek. BRI akan di-SMS bersamaan total tagihan

Pengiriman

Diverifikasi oleh:

Temukan Kami di

Alamat Kantor Pusat

Jl. Veteran Selatan, Kel. Mamajang Dalam
Kec. Mamajang, Makassar, kode pos 90135
Sulawesi Selatan, Telp. 082292524892